Kutemukan Pagi di Bawah rembulan

Kutemukan pagi di bawah rembulan yang sayup-sayup berembun.

Di dalam sari-sari awan yang malu-malu turun.

Pagi yang memberi celah di antara pintu yang saling terkunci.

Kujenguk lagi, Ku dan Mu saling melambai.

Bukan untuk pergi.

Kutemui pagi di bawah rembulan yang sayup-sayup mengadu.

Meski seharusnya sembunyi.

Namun lambai-lambai terus memandu.

Pagi, haruskah begini?

Selayaknya, Ku dan Mu..

Menanam padi, untuk mengerti

Saling begini.

Ajari kami.

Selamat Pagi! #2

Selamat pagi, sebagus apapun rencana kita tapi terbiasalah juga dengan segala kemungkinan yang akan menghampiri kita. ~

Jalan untuk Pagi yang Lalu

Seperti waktu yang terbilang suci yang selalu membuka harapan baru. Dan catatan kecil di masa lalu membuka pintu.

Kusebut pagi, kumelihat cerah malam yang dihantarkan langit pada angin. Menalak langit yang dianggap pekak, menyapa.

Kujumpai bersama alunan semesta dalam melodi gitar dan biola yg ditablighkan pengamen jalanan. Pagi, bagai seruan tanpa semu.

Bersama pagi yang akan datang? Menganyam daun kelapa di pesisir tanpa kota. Memeluk suasana dengan seduhan nyanyian alam.

Kupanggil para kelekatu, sejenak bertengger di rotan yang berbau muda. Menyapa cahaya langit malam yang saling memanggil.

Pagi untuk pagi. Mari kita jemput, dan selamatkan pagi yang suci.

Dan kita kembali tanpa: menemukan yang berkarat, bising kota, banyak atap, dinding yang keras. Bersama, menjemput pagi-pagi.

Sejenak Sajak: Putih

Putih
Putih adalah fajar yang Kau seduhkan pada kelopak-kelopak mata yang telah menikmati malam.
Putih adalah bulir-bulir embun yang menetes pada kaki-kaki yang ingin berlari.
Berlari dalam lantunan langkah yang menari.
Bersama mimpi-mimpi yang dihantarkan oleh malam.
Dari gelap yang mengutarakan cahaya harapan.
Putih bersama pagi hingga sebelum fajar kembali.
Dan putih yang dibiaskan ke segala jiwa yang masih bersembunyi.
Selamatkan pagi, yang suci.

Kau, dan kami.

#Repost #120115